Review Michael, Jaafar Jackson Beneran Titisan Michael

Adiyasa PrahendaFilm Barat1 month ago1.7K Views

Layar.id – Sejak awal, film Michael memang sudah menarik perhatian. Namun yang mengejutkan, film ini ternyata jauh dari kata buruk seperti yang ramai dibicarakan banyak orang maupun sejumlah reviewer luar. Justru sebaliknya, Michael tampil lebih kuat dan berani dalam mengungkap sisi-sisi yang selama ini mungkin belum banyak diketahui publik. Inilah review Michael.

Keberanian keluarga Jackson untuk mengangkat kisah Michael sendiri adalah langkah yang berani sekaligus brutal. Di satu sisi, film ini memperlihatkan sisi lain dari perjalanan The Jackson 5 hingga langkah Michael menuju karier solonya. Di sisi lain, film ini juga seolah menegaskan bahwa Michael memang sosok yang spesial sejak awal.

Cerita yang Kurang Rapi, tetapi Jaafar Tampil Menggigit

Pertanyaanya, kenapa Michael terasa lebih lemah daripada biopik musik lainnya? Jawabannya ada pada penulisan cerita yang kurang rapi. Meski begitu, Jaafar Jackson sebagai Michael justru menjadi kekuatan utama yang membuat film ini tetap layak ditonton.

Babak pertama masih berjalan cukup baik. Penonton diajak melihat bagaimana Michael dan para kakaknya tumbuh sebagai The Jackson 5, termasuk bagaimana Joseph Jackson membentuk mereka dengan disiplin yang keras. Namun, ketika cerita masuk ke fase remaja dan peralihan Michael menuju karier solo, ritmenya mulai terasa panjang. Dialog yang hadir juga belum sepenuhnya mampu membangun emosi yang benar-benar kuat.

Beberapa bagian di chapter kedua pun terasa terlalu berlarut-larut. Kehadiran karakter seperti Don King terasa terlalu jauh dari fokus utama cerita, sehingga film ini memberikan kesan terlalu banyak informasi yang tidak semuanya penting. Alhasil, alih-alih mengalir, film ini kadang terasa penuh dan sesak oleh detail yang tidak perlu.

Jaafar Jackson Jadi Tumpuan Utama

Di tengah berbagai kelemahan itu, Jaafar Jackson justru tampil sebagai tumpuan utama film ini. Aktingnya terasa sangat meyakinkan, dan ia berhasil membawa sosok Michael Jackson dengan nuansa yang pas. Ada sesuatu yang terasa “magical” dari penampilannya, sesuatu yang membuat penonton sulit lepas dari layar.

Colman Domingo sebagai Joseph Jackson juga tampil kuat, meski karakternya lebih terasa menyebalkan dan menakutkan daripada kompleks. Sosoknya gambarkan sebagai ayah yang ambisius, namun arahnya terasa tidak sepenuhnya jelas. Sementara itu, Nia Long sebagai Katherine Jackson justru memberi pembawaan yang lebih hangat dan stabil.

Para pemeran yang memerankan kakak-kakak Michael juga membantu membangun atmosfer The Jackson 5 dengan cukup baik. Sayangnya, porsi untuk Tito, Jermaine, hingga LaToya terasa sangat terbatas. Absennya Janet Jackson dengan alasan pribadi juga membuat dinamika keluarga Jackson terasa belum benar-benar utuh.

Visual yang Cocok dengan Karakter Era

Dari sisi visual, film ini cukup berhasil menangkap karakteristik zamannya. Nuansa era 60-an dan 70-an saat The Jackson 5, lalu bergerak ke awal 80-an saat Michael mulai menapaki karier solonya, terasa cukup hidup. Ada kesan nostalgia yang kuat, terutama bagi penonton yang akrab dengan gaya panggung, video musik, dan persona Michael Jackson pada masa kejayaannya.

Harapannya, jika ada sekuel, film ini bisa membawa penonton ke era 90-an dan 2000-an, sekaligus mengangkat sisi yang lebih kompleks dari perjalanan hidup Michael, termasuk berbagai kontroversi yang pernah ia hadapi.

Kesimpulan

Michael bukan film yang sempurna. Ceritanya memang terasa terlalu penuh, beberapa bagian kurang rapat, dan pacing-nya belum stabil. Namun, kekuatan Jaafar Jackson membuat film ini tetap punya daya tarik besar. Pada akhirnya, Michael adalah biopik yang lebih berani daripada yang diduga banyak orang.

SkorReview Michael 9/10

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...