Review Surat Untuk Masa Mudaku, Menohok!

Adiyasa PrahendaNetflix4 months ago626 Views

Layar.id – Bayangin dulu deh, sebenarnya bayakan anak Panti Asuhan bergantung kepada pengurus harian. Namun, entah kenapa ada yang nakal dan akhirnya meninggalkan mereka semua dalam sebuah kisah merana. Inilah review Surat untuk Masa Mudaku.

Melihat dari berbagai sudut sampai memindahkan ke masa kecil kita. Kemudian teringat lagi akan masa kecil di Panti Asuhan, Kefas sendiri menerima masa-masa tersebut. Namun bagaimana dari segi cerita dan akting itu sendiri?

Cerita Penuh dengan Haru

Baru kali ini Netflix coba buat Film dengan kisah penuh dengan haru dan tangisan. Namun, itu semua bermula dari satu orang, Pak Simon. Iya, karena sosok inilah cerita di Panti Asuhan itu semuanya bisa jadi lebih baik.

Entah kenapa penulisan dari ceritanya lebih memperlihatkan koneksi Pak Simon dan bagaimana ia bisa hadirkan semua kebaikannya ke seluruh penghuni Panti. Mulai dari Kefas, sosok anak muda tidak suka dengan kehadiran dari Pak Simon akibat dari seorang pengurus panti harian yang lakukan kejahatan.

Kemudian, Sabrina yang selalu bersinggungan dengan Kefas pun merasa kalau Kefas adalah orang paling bisa mensabotase pekerjaan Pak Simon. Namun, itu semua terjadi sebaliknya. Mana, Pak Simon adalah orang yang ingin bahagiakan orang lain sebelum ajal menjemput.

Sebenarnya pesan demi pesan di film ini sangat kena sekali. Meskipu berbalut ayat Alkitab namun selalu saja ada hal menohok di film tersebut. Tapi pesannya mudah sekali kita pahami, tidak pernah sekalipun kita kesepian karena akan ada orang baik yang akan mengenang kita maupun cari kita untuk menemani mereka sampai sukses.

Kefas muda dan Kefas dewasa Punya Karakteristik Berbeda

Surat untuk Masa Mudaku

Inilah keunikan dari Kefas muda dan Kefas dewasa. Kefas muda sendiri oleh Millo Taslim ini beneran punya sikap rebel namun dari sisi lain aktingnya ini beneran sebagus itu. Bahkan kami berpikir kalau Millo ini punya bakat terpendam dan bisa meneruskan bakat aktingnya seperti punya kesan mendalam.

Bagaimana dengan Fendy Chow? Justru kekuatan Fendy Chow sendiri gambarkan kalau Kefas dewasa masih bawa berbagai macam amarah. Kemudian Sabrina oleh Aqila Herby pun jadi karakter dewasa yang pas banget. Meskipun versi dewasanya agak shock juga, seorang Ruth Marini dan beberapa nama seperti Boni kecil dan Boni dewasa pun agak berbeda.

Tapi yang jelas emosi akting mereka itu lho beneran bisa bikin kita beneran nyesek dan tak terasa air mata sudah bercucuran saat nonton film ini.

Sinematografi Gambarkan Kisah di Masa itu

Review Surat untuk Masa Mudaku

Kalau mengingat soal sinematografinya pun rasanya kaya lihat kesan yang berbeda dari film ini. Semuanya berbalut tahun 80-an akhir atau 90-an awal. Kesan ini yang terjaga dari awal sampai akhir. Membuat kesan kalau film ini memang sesuai dengan setting di era tersebut.

Okelah kalau mau tahu berapa Review Surat untuk Masa Mudaku kita kasih deh 9/10!

 

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...