
Layar.id – Comic 8 Revolution: Santet Kabinet datang dengan skala yang nyaris berlebihan. Film komedi dengan pemain seabrek ini mempertemukan komedian senior dan komika baru dalam satu arena yang sengaja saling bertabrakan. Dari sinilah daya tarik utamanya muncul, Entah bagaimana energi-energi berbeda itu lepas bebas tanpa banyak rem, sampai satu bioskop bisa tertawa bersama atau justru kewalahan menangkapnya.

Kekacauan itu berangkat dari premis yang tak kalah absurd. Presiden dibuat cemas oleh kemunculan sepasang dukun yang berambisi menguasai negara lewat sebuah tengkorak peninggalan meneer Belanda. Ancaman ini memaksa pemerintah bergerak, tapi pertanyaannya sederhana sekaligus konyol.
Siapa yang cukup waras untuk melawan kegilaan seperti ini?
Pakde Indro dan Oki pun kebingungan mencari sosok agen yang tepat, sementara di sisi lain Ki Bagus dan Ni Gendis sudah sibuk menyiapkan ritual demi ritual untuk menyingkirkan siapa pun yang menghalangi, termasuk Presiden. Dari titik inilah film mulai bermain di wilayahnya sendiri, memadukan intrik, horor yang tidak lebay-banget-sama-sekali dan komedi datang bertubi-tubi.
Lewat cerita dan akting para pemainnya, Comic 8 Revolution: Santet Kabinet akhirnya menguji satu hal penting dalam dunia komedi. Apakah kekacauan sebesar ini cukup solid untuk terus mengundang tawa? Untuk itu kita ulas berikut ini.

Pengembangan cerita kali ini terasa lebih membumi, meski tetap dibungkus dengan kekacauan yang akrab dengan keseharian. Salah satu contohnya hadir lewat sosok Presiden yang justru menaruh kepercayaan besar pada penasehat spiritual. Sebuah situasi yang terdengar absurd, tapi ironisnya tidak terasa asing.
Seolah film ini beri kita waktu untuk tarik napas, habis itu ketawa lagi. Dan terus-menerus, sampai bikin suasana bioskop jadi arena tawa. Ibaratnya, lawakan datang dnegan kondisi rapi, tabrakan malah berantakan. Bahkan sampai penonton pun refleks maju dari sandaran kursi.

Seandainya Adhitya Mulya mampu merangkai tiga generasi komedi ini dalam satu garis waktu yang benar-benar sefrekuensi dengan penontonnya, hasilnya mungkin akan terasa lebih presisi. Potensinya sebenarnya ada, tapi belum sepenuhnya terkunci.
Dari sinilah peran Andrea Taulany dan Hesti Purwadinata jadi krusial. Keduanya datang dengan pengalaman panjang di sketsa komedi, hadirkan gaya humor yang relatif mudah diterima penonton awam sekaligus menjadi jembatan di tengah keramaian gaya lawak.
Situasinya berbeda ketika Cak Lontong datang sebagai Presiden. Persona yang mereka bawa itu masih terasa terlalu lekat dengan citra Presiden era sebelumnya. Membuat satir politiknya terasa kurang lepas. Tapi, kesan Presiden sebelumnya ini malah berikan efek satir yang dahsyat! Bagaimana seorang Cak Lontong berikan referensi Presiden yang tanggap dan dapat informasi dari seluruh penasehat. Alias, sebuah kritik yang beneran kena banget kali ini.

Salah satu potensi yang terasa belum dimaksimalkan justru datang dari Pak Yusub sebagai Jenderal. Porsinya relatif diperkecil, padahal latar belakang militernya bisa menjadi jembatan cerita yang menarik.
Bayangkan bagaimana disiplin ala militer terutama Marinir bertabrakan dengan gaya para agen Comic 8 yang serba ngawur. Hasilnya adalah tawa yang lebih konsisten. Di situlah komedi Comic 8 Revolution: Santet Kabinet bakalan terasa lebih padat dan lebih menggigit.

Dari sisi akting, energi di film ini terasa terbagi cukup merata. Andre Taulany dan Hesti Purwadinata hadir dengan ritme komedi yang stabil, jadi penyeimbang di tengah keramaian pemain. Namun Oki Rengga justru tampil berbeda dari biasanya. Ada kesan ia menahan diri, tidak selepas perannya di film-film lain, sehingga beberapa momennya terasa kurang meledak meski tetap memberi warna.
Mungkin sisi lain, Indro masih mampu menjaga ritme komedi dengan tenang. Tapi dengan belasan pemain sekaligus, ditambah para peserta Comic 8 Revolution, film ini pada akhirnya terasa seperti sebuah komedi keroyokan. Di sinilah kekuatan sekaligus tantangannya muncul: tawa datang dari kebersamaan, bukan dari satu sosok yang benar-benar mendominasi.

Saking ramainya pemain, beberapa karakter memang hanya kebagian momen singkat. Tapi justru di situ muncul rasa penasaran, ada sosok-sosok yang terasa seperti belum sempat unjuk gigi sepenuhnya. Penonton dibuat bertanya-tanya, sebenarnya sejauh apa potensi mereka kalau ada ruang lebih.
Di beberapa bagian, gaya lawakan yang muncul pun terasa beragam. Ada yang langsung kena, ada juga yang mungkin lebih akrab di telinga penonton muda. Tapi keberagaman inilah yang jadi ciri khas film ini. Comic 8 Revolution: Santet Kabinet terasa seperti panggung besar yang riuh, mengajak penonton ikut menyelami tawa yang datang dari banyak arah, meski tidak semuanya mendarat dengan cara yang sama.

Masih ingat Comic 8 versi Anggy Umbara? Versi ini terasa melangkah lebih jauh. Di tangan Fajar Bustomi, dunianya terlihat lebih riil dan membumi, meski beberapa adegan masih terasa kasar. Namun, visualisasi yang lebih matang justru jadi penopang cerita, membuat kekacauan komedinya terasa lebih hidup dan memberi pengalaman menonton yang lebih solid dibanding sebelumnya.
Comic 8 Revolution Santet Kabinet kita kasih rating 8/10 deh. Soalnya keriuhan Film Komedi ini tidak akan ada lagi kaya begini.
Foto: Falcon Pictures






