Benny Safdie Bawa MMA ke The Smashing Machine

Adiyasa PrahendaBerita Hiburan7 months ago278 Views

Benny Safdie

Layar.id – Film The Smashing Machine (2025) menandai debut solo sutradara Benny Safdie. Mungkin sebelumnya terkenal lewat film seperti seperti Good Time (2017) dan Uncut Gems (2019). Setelah sukses mencetak berbagai karya ikonik bersama A24. Kini Safdie menempuh jalannya melalui Film biopik olahraga yang memukau.  Dan berhasil membawanya meraih Silver Lion untuk Sutradara Terbaik di Venice Film Festival 2025.

Adaptasi dari dokumenter The Smashing Machine: The Life and Times of Extreme Fighter Mark Kerr (2002). Film ini ikuti perjalanan Mark Kerr, legenda MMA yang beralih ke arena arena mixed martial arts di akhir 1990-an. Perankan oleh Dwayne “The Rock” Johnson, film ini memperlihatkan transformasi Kerr dari juara UFC dua kali sampai akhirnya kecanduan obat terlarang.

Benny Safdie Bawa Atlet MMA Betulan

Benny Safdie

Dalam wawancara eksklusif, Benny Safdie menegaskan bahwa keputusannya melibatkan petarung MMA sungguhan bukan sekadar pilihan gaya, melainkan kebutuhan artistik. “Bagi saya, mereka bukan aktor non-profesional, hanya aktor pertama kali yang akhirnya ada kesempatan,” jelasnya.

“Periode ini adalah masa kelahiran MMA, dan kami ingin memperlakukannya dengan penuh hormat. Jadi, menempatkan atlet sejati di depan kamera adalah satu-satunya cara yang masuk akal.”

Selain Johnson, film ini juga bintangi oleh Emily Blunt sebagai Dawn Staples, kekasih Kerr yang setia mendampingi di masa-masa tergelapnya. Menandai kolaborasi kedua mereka setelah Jungle Cruise (2021). Sejumlah legenda MMA juga tampil, seperti Ryan Bader (juara Bellator Heavyweight) yang memerankan sahabat sekaligus sesama petarung Mark Coleman, serta Bas Rutten yang memerankan dirinya sendiri sebagai pelatih Kerr.

Bintang tinju Ukraina Oleksandr Usyk juga ikut bermain sebagai Igor Vovchanchyn, petarung legendaris dengan rekor tak terkalahkan yang masih kita ingat hingga kini.

Baca juga: Review The Smashing Machine

Keberadaan atlet-atlet tersebut menghadirkan keaslian yang jarang temui di film olahraga modern. Safdie bahkan melibatkan komentator legendaris Stephen Quadros untuk memerankan dirnya sendiri dalam adegan turnamen Pride Grand Prix 2000. “Mereka bukan hanya memberikan fisik dan teknik,” ujar Safdie, “tapi juga pengalaman hidup yang membantu kami memahami sisi emosional di balik setiap pertarungan.”

Dengan gaya visual yang kasar, pengambilan gambar handheld, dan suasana dokumenter yang intens, The Smashing Machine menawarkan pengalaman berbeda bagi penonton. Bukan sekadar kisah tentang olahraga, melainkan tentang harga yang harus ia bayar untuk kejayaan. Film produksi A24 ini akan segera tayang global dan disebut-sebut siap menjadi salah satu kandidat kuat di musim penghargaan mendatang.

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...