
Layar.id – Di momen pembukaan Jakarta World Cinema 2025, kami berkesempatan untuk hadir menyaksikan opening film-nya yang berjudul Sentimental Value. Sebuah film yang menceritakan cinema–in–cinema, tentang hubungan seorang sutradara sekaligus seorang absent father bersama anaknya, yang merupakan seorang actress. Kami melihat bagaimana keduanya bergulat dengan emosi masing-masing dalam mengedepankan karir dan hubungan keluarga, sampai akhirnya warisan emosi terpecah di bagian akhir. Jadi Review Sentimental Value seperti apa?
Berikut review untuk film Sentimental Value dari Layardotid.

Sejak pembukaan filmnya, Sentimental Value memperkenalkan kita pada sebuah rumah. Rumah yang jadi saksi bisu dari segala cerita antara Nora, Agnes, dan ayah mereka, Gustav. Dari kehidupan kecil Nora dan Agnes, pertengkaran Gustav dan sang istri, sampai pertumbuhan Nora dan Agnes sebagai saudari tanpa sosok orangtua.
Pace awal ceritanya lumayan ngalor ngidul, dalam artian ceritanya memandang dari segala sisi dan agak random. Cutting scenes-nya menunjukkan perbedaan waktu yang lumayan signifikan, seperti dari Nora kecil, rumahnya, kehidupan Gustav sendiri, sampai Nora dewasa. Beberapa juga menyangkup adegan metafora.

Rumah Nora dan Agnes sedikit-banyak menggambarkan sejarah keluarga dan warisan emosi yang berturun-temurun. Rumahnya yang berdiri kokoh dengan dinding retak, seolah merefleksikan kerapuhan dalam diri Nora dan Agnes sebagai anak yang tumbuh tanpa sosok ayah. Sang rumah adalah simbolisme dari kenangan-kenangan keluarga di balik seluruh temboknya.
Hanya bermula dari sebuah rumah, kita menyambangi hubungan kompleks Nora, Agnes, dan Gustav yang complicated. Terutama Nora yang merupakan seorang aktris teater dan Gustav yang bekerja sebagai sutradara. Seorang sutradara yang sangat dipuji rupanya berhubungan buruk dengan putrinya yang jago berakting di depan penonton.

Kalau ada kesamaan besar yang bisa kita kaitkan dari Nora dan Gustav, keduanya sama-sama pandai berpura-pura. Di depan keluarganya, di hadapan penonton, di kamera media, atau di karpet merah.
Gustav menyiapkan sebuah script film yang menceritakan tentang Nora, dan meminta Nora untuk memainkan perannya. Tapi, Nora menolak. Ya.. masuk akal juga, sih. Imagine if your so-absent father came home and ask you to play a role of yourself based on his writings. Apakah nggak menyinggung perasaan Nora?
Di sisi lain, ceritanya juga mengulik sudut pandang Gustav sebagai seorang ayah yang pulang. Gustav mengambil rumah lamanya sebagai lokasi utama syuting script-nya, yang diharapan bisa ia jadikan sebuah kenangan abadi melalui film. Ditambah lagi, kehadiran seorang aktris sebagai pengganti Nora justru menambah beban moral bagi Gustav.
Karakter Rachel Kemp sebagai aktris Hollywood yang menggantikan Nora justru menjadi cermin bagi Gustav dan Nora sendiri. Keluhan Rachel tentang karakternya yang sangat kompleks justru menjadi pukulan kuat bagi sang sutradara. Di momen inilah, plot Sentimental Value mencapai klimaksnya, saat Rachel meminta Nora untuk memerankan karakternya.
Karena, tidak ada aktris yang lebih tepat untuk memerankan Nora daripada Nora sendiri.
Saat menonton Sentimental Value, kerasa banget kalau pace ceritanya slow. Namun, karena alurnya lambat, esensi emosionalnya serasa ditumpuk-tumpuk. Jadinya, semua pecah di bagian akhir, tepat saat Nora dan Agnes beradu mulut dengan sang Ayah di rumah.
Di beberapa bagian, alur yang lambat ini sedikit membosankan. Bisa kita simpulkan, “sentimental value” dalam film ini bertambah sedikit demi sedikit seiring berjalannya cerita. Kita nggak bisa loncat dari bagian A ke bagian C tanpa memahami bagian B.
Kita nggak bisa langsung menebak kenapa Gustav sangat ingin Nora memerankan script-nya meski ia sudah menghilang bertahun-tahun. Ada banyak layer yang tersimpan, dan film ini mengupasnya dengan sangat hati-hati, dari dua sisi.
Film Sentimental Value menyentuh banyak banget sisi rumah yang takut untuk dibuka secara jujur. Nggak semua orang bisa menegaskan lapisan emosional mereka tanpa menyakiti orang lain, meski sebenarnya, keinginan mereka hanyalah untuk didengar.
Di samping segala humor, nostalgia, dan eksistensi seni sebagai alat komunikasi batin, satu hal yang lumayan bugging adalah lambatnya alur cerita. Saking lambatnya, penonton bisa ikut ngerasain anxiety dan tekanan emosional Nora, Agnes, Rachel, dan Gustav sepanjang film.
Kami memberikan skor 4/5 untuk film Sentimental Value. Ini bukanlah film yang ringan untuk ditonton. Truly.






