
Layar.id – Kalo mau tahu bagaimana memilih pemimpin apakah bisa semua saling menusuk satu sama lain? Namun itu semua bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Kok bisa? Itulah gambaran review Conclave karya Edward Berger dengan penggambaran menarik dan juga berbeda dari yang lain.
Sebenarnya sih Conclave atau bahasa Indonesia-nya itu Konklaf adalah proses pemilihan pemimpin tertinggi umat Katolik atau kita kenal sebagai Paus. Tugas para kardinal ini mencari sosok yang bisa jadi pimpinan dari umat katolik seluruh dunia. Sebenarnya cerita-nya kaya apa sih? Dan lantas, apa yang membuat Conclave ini bukan sekedar bagus saja.

Okelah dari awal mulai saja kita suguhkan pemandangan mana Paus meninggal dalam tidurnya. Istilahnya meninggal dalam damai. Namun, sebagai Dekan dari Kardinal seluruh dunia memutuskan untuk segera lakukan Conclave. Tentu saja, pukulan telak kena Aldo Belllini karena dekat dengan Paus.
Ia melihat Aldo, Adeyemi, Tremblay dan Tedesco masuk dalam radar penerus Paus. Namun, ada satu nama yang muncul dari Keuskupan Kabul, afghanistan. Ia adalah Vincent benitez, seorang Kardinal Asal Meksiko yang selalu berjuang lakukan misionaris di wilayah Konflik.
Saat Conclave berlangsung, terdapat perdebatan dan juga memilih siapa yang menjadi Paus. Bahkan semua kisah bahkan cerita pun mulai tersibak. Dari skandal hubungan terlarang selama 30 tahun dan hasilkan seorang anak. Sampai korupsi besar terkuak.
Tetapi, kok bisa seh semua skandal ini terkuak? Itulah kekuatan cerita yang menurut orang itu Plot Twist! Padahal mah, dari sini Conclave sendiri sudah menyatakan kalau kejujuran itu jadi bagian penting dari proses pemilihan.

Tremblay perankan John Lithglow atau kita kenal dia sebagai Trinity Killer di DEXTER. Rasanya sebagai sosok antagonis yang mencoba singkirkan seluruh kandidat dan coba untuk menyuap sebagian besar kardinal dengan uang. Tentu saja, skandal ini memalukan namun tidak semuanya bisa bocor keluar dari pertemuan Konklaf itu.
Karena Lawrence mengatur apa yang terjadi Konklaf tidak bisa diatur sedemikian rupa. Begitu juga soal skandal Adeyemi dengan seorang suster. Ini bisa jadi kisah paling memilukan namun hal seperti ini memang jadi pertimbangan.

Namun, kemunculan nama Vincent Benitez itu lho bikin orang kaget! Pasalnya, Thomas Lawrence perankan oleh Ralph Fiennes bisa menjadi sosok yang rapuh dan satu sisi rasa kepeduliannya pada Gereja Katolik itu membuncah juga demi menjaga martabat sebuah organisasi.
Selain itu dialog antar kardinal pun pertegas kalau mereka itu manusia dengan segala tekanan dan juga ambisi besar. Belum lagi Stanley Tucci dengan gaya khas-nya malah berikan tekanan ke Ralph Fiennes. Sebuah oscar-worthy untuk Ralph meskipun Adrien Broddy pun jauh lebih baik.

Soal Scoring sendiri memang dari awal film ini sudah bisa menjadi pilihan buat mereka yang mau ketegangan. Pasalnya sih, setiap adegan selalu keluar scoring yang bikin bulu bergidik. Bahkan ketegangan bisa mereda tatkala perdebatan antar kardinal itu sudah terpecahkan kala mereka harus mengaku perbuatan mereka.
Selain itu seh semuanya serba tenang dan penuh dengan desiran suara yang syahdu untuk ukuran film tentang pemilihan seorang Paus.

Dari seluruh review, memang karakter Ralph Fiennes di film ini lebih kuat, berani dan rapuh dalam waktu bersamaan. Tapi tidak bikin performa dia menurun. Justru, sebagian karakter pendukung lainnya termasuk Benitez sendiri jadi bagian terakhir dari Plot Twist kali ini. Entah kenapa film ini bagus dari segi cerita dan emosional-nya. Jadi Review Conclave kali ini kami kasih 8.5/10 deh!






