Review 402 Rumah Sakit Angker, Fresh Sekali!

Layar.id – Anggy Umbara kembali mencoba pendekatan berbeda di genre horor. Bersama penulis naskah Lele Laila, ia menghadirkan 402 Rumah Sakit Angker, sebuah horor bergaya body-cam dan found footage yang masih jarang ditemui di perfilman Indonesia. Walaupun merupakan adaptasi dari film Korea berjudul sama, versi Indonesia tetap menawarkan identitasnya sendiri lewat dinamika karakter dan konflik yang terasa lebih personal. Lantas apa sih Review 402 Rumah Sakit Angker ini?

Film ini mengikuti sekelompok content creator asal Indonesia yang datang ke Rumah Sakit Won di Korea Selatan untuk membuktikan keberadaan Ruang 402 melalui siaran langsung. Target mereka sederhana: meraih jutaan penonton dan menghasilkan keuntungan besar. Namun, semakin jauh mereka menelusuri rumah sakit tersebut, misi berburu konten perlahan berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup.

Found Footage yang Tidak Hanya Mengandalkan Hantu

Lele Laila patut mendapat apresiasi karena mampu memasukkan unsur-unsur horor lokal, termasuk ritual Jelangkung, tanpa terasa memaksa. Walaupun hanya menjadi bagian kecil dari cerita, elemen tersebut mampu menyatu dengan mitologi rumah sakit tanpa merusak alur utama. Sebagai film remake, pendekatan ini membuat adaptasi terasa memiliki identitas sendiri, bukan sekadar menyalin versi aslinya.

Namun, kekuatan terbesar film ini justru bukan berada pada sosok hantunya, melainkan konflik antar manusia yang perlahan berkembang sepanjang cerita.

Ketika Ambisi Berubah Menjadi Obsesi

Lele Laila mencoba memberikan motivasi berbeda kepada setiap anggota tim. Arum dan Yuri, misalnya, ingin membuktikan kepada orang tua bahwa mereka mampu bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Bara melihat peluang besar dari kesuksesan live streaming tersebut, sementara Adit memilih mengikuti arus bersama teman-temannya.

Di antara semuanya, Juna menjadi karakter yang paling menonjol. Pada awalnya ia hanyalah seorang pemimpin yang ingin mengejar tiga juta penonton dan keuntungan dari siaran langsung mereka. Namun seiring cerita berjalan, target tersebut berubah menjadi obsesi. Kalimat “gua nggak boleh gagal kali ini” menjadi titik balik penting yang memperlihatkan bagaimana Juna mulai kehilangan kompas moralnya.

Obsesi itu membuatnya perlahan memanipulasi anggota tim lain demi memastikan targetnya tercapai. Ancaman terbesar dalam film ini akhirnya bukan hanya berasal dari rumah sakit yang angker, tetapi juga dari bagaimana ambisi mampu mengikis rasa percaya dan solidaritas di dalam kelompok.

Bara dan Adit Pun Jauh lebih Menarik

Bara dan Adit pun ikut mengalami perkembangan karakter yang menarik. Keduanya sempat berada di pihak Juna karena melihat peluang yang sama, tetapi perlahan menyadari bahwa mereka hanya dimanfaatkan demi memenuhi ambisi sang pemimpin. Sayangnya, motivasi pribadi mereka tidak sepenuhnya mendapat penyelesaian yang memuaskan hingga akhir cerita.

Sementara itu, Tyas dan Daeho justru menjadi dua karakter yang terasa paling kurang dieksplorasi. Tyas perkenalkan sebagai sosok yang memiliki sensitivitas terhadap keberadaan makhluk gaib, sebuah kemampuan yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk memperkuat konflik. Sayangnya, kemampuan tersebut lebih sering mereka gunakan sebagai pemicu ketegangan sesaat daripada menjadi bagian penting dalam perkembangan cerita.

Hal serupa juga terjadi pada Daeho. Meski memiliki latar belakang yang ternyata berperan penting terhadap misteri Rumah Sakit Won, pengembangan karakternya terasa terlalu minim. Padahal, baik Tyas maupun Daeho menyimpan potensi untuk memperkaya mitologi film ini apabila diberikan ruang yang lebih besar.

Tentu saja, membagi porsi cerita untuk tujuh karakter bukan pekerjaan mudah. Karena itu, keputusan film untuk lebih memfokuskan perkembangan Juna sebagai pusat konflik masih dapat dipahami, terlebih transformasi karakternya menjadi salah satu aspek paling kuat dalam keseluruhan cerita.

Arbani Yasiz Tampil Paling Menonjol

Dari seluruh jajaran pemain, Arbani Yasiz menjadi penampilan yang paling mencuri perhatian. Ia berhasil memperlihatkan perubahan Juna secara bertahap, dari sosok pemimpin yang penuh keyakinan menjadi pribadi yang kehilangan batas moral akibat obsesinya terhadap keberhasilan.

Saputra Kori juga tampil meyakinkan sebagai Adit. Ia mampu menunjukkan pergulatan batin seorang anggota tim yang perlahan menyadari bahwa dirinya telah dimanfaatkan oleh pemimpinnya sendiri. Sementara itu, Elang El Gibran mampu menghidupkan Bara sebagai karakter yang oportunis, tetapi tetap memiliki sisi kemanusiaan ketika menyadari situasi yang sebenarnya.

Sebaliknya, Jang Han-sol sebagai Daeho masih terasa kurang maksimal. Padahal karakter ini memiliki peran penting dalam keseluruhan misteri cerita, tetapi ekspresi dan penyampaian emosinya cenderung datar sehingga beberapa momen penting kehilangan daya ledaknya.

Visual Imersif, tetapi Terlalu Gelap

Konsep body-cam dan found footage berhasil menciptakan pengalaman yang lebih imersif. Penonton seolah ikut berada di dalam Rumah Sakit Won bersama para karakter.

Sayangnya, pencahayaan yang terlalu minim di sejumlah adegan justru menjadi kelemahan tersendiri. Alih-alih membangun ketegangan, beberapa perpindahan adegan terasa monoton karena ruang yang tampil sulit terbaca dengan jelas. Atmosfer horor memang tetap terbangun, tetapi tidak selalu mampu memberikan rasa mencekam yang konsisten.

Keputusan Anggy Umbara menggunakan sudut pandang body-cam membuat penonton terasa berada di tengah situasi, meski pada beberapa adegan pergerakan kamera yang terlalu agresif membuat orientasi ruang sedikit membingungkan.

Kesimpulan

Review 402 Rumah Sakit Angker berhasil menunjukkan bahwa film found footage tidak harus hanya mengandalkan jumpscare atau penampakan hantu. Justru konflik antarkarakternya menjadi kekuatan utama, terutama ketika obsesi terhadap kesuksesan perlahan menghancurkan kepercayaan di dalam sebuah tim.

Meski pengembangan beberapa karakter pendukung seperti Tyas dan Daeho masih terasa kurang maksimal, serta aspek visual terkadang terlalu gelap, Anggy Umbara dan Lele Laila tetap berhasil menghadirkan adaptasi yang memiliki identitas sendiri. Perpaduan body-cam, found footage, dan konflik psikologis antarmanusia membuat film ini tampil berbeda dibandingkan kebanyakan horor lokal yang hanya mengandalkan teror supernatural.

Nilai 9.5/10

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

0 Votes: 0 Upvotes, 0 Downvotes (0 Points)

Previous Post

Next Post

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...