
Layar.id – Mungkin inilah serial original iQIYI yang benar-benar terasa berbeda dari kebanyakan OTT lain. Kenapa? Karena dari awal, serial ini seperti lebih paham apa yang dekat dengan selera penonton Indonesia. Bukan cuma dari sisi cerita, tapi juga dari kemasan produksi yang terasa lebih matang, rapi, dan meyakinkan. Seperti Review Bercinta dengan Maut.
Secara garis besar, Bercinta dengan Maut mengisahkan sebuah keluarga politisi yang menyimpan banyak kepentingan di balik citra sempurna mereka. Di tengah pusaran intrik itu, sang menantu justru menjadi korban karena tak mampu menempatkan diri dalam lingkungan keluarga yang penuh manipulasi. Masalahnya makin rumit ketika terungkap bahwa ia punya saudara kembar yang sama sekali tidak mereka ketahui. Dari sini, cerita bergerak ke arah yang lebih gelap, penuh rahasia, dan tentu saja dramatis.

Kalau bayangin sih, serial ini memang sangat dekat dengan formula novel online bertema mafia, politik, dan romansa gelap. Dan jujur saja, itu bukan hal buruk. Justru dari situlah daya tariknya dari sebuah cerita yang banyak sekali ada di serial ini. Banyak penonton Indonesia memang menyukai drama tentang orang kaya, konflik keluarga, dan permainan kuasa yang terus saling menghantam.
Intrik politik di dalamnya juga tidak seperti setengah hati. Memang tetap terasa seperti adaptasi dari dunia novel online, tetapi justru itulah yang membuat serial ini mudah kalian nikmati. Bagi penonton yang tidak terlalu akrab dengan dark romance, serial ini tetap punya cukup banyak kejutan untuk kalian ikuti.
Yang menarik, lapisan konfliknya juga masih belum sepenuhnya terbuka. Ada banyak karakter yang belum benar-benar dikupas, sehingga memberi ruang bagi cerita untuk berkembang. Dalam format seperti ini, dark romance dan mystery memang terasa lebih pas ketika dibawa ke serial.

Salah satu daya tarik terbesar serial ini ada pada Haico Van Der Veken yang memerankan dua karakter sekaligus. Menjalankan peran kembar dengan kepribadian yang bertolak belakang jelas bukan pekerjaan mudah, apalagi jika harus menjaga intensitas emosi di tiap adegan. Hasilnya cukup meyakinkan dan bahkan lebih baik dari ekspektasi awal.
Teuku Rasya juga masih terlihat sebagai aktor yang punya potensi besar. Perannya di episode awal memang belum terlalu meledak. Tetapi ada kesan bahwa karakter ini masih menyimpan sesuatu untuk perkembangan berikutnya. Sementara itu, Maxime Bouttier justru terasa masih terlalu mengambang di fase awal cerita, meski kemungkinan besar karakternya akan berkembang seiring berjalannya episode.

Dari deretan pemain, Dinda Kirana juga mencuri perhatian. Karakternya terasa seperti kuda troya yang diam-diam menyimpan sisi manipulatif paling berbahaya sejauh ini.
Dari sisi visual, serial ini tidak memilih tampil terlalu berlebihan. Padahal, dengan premis keluarga elite dan dunia politisi, sangat mudah untuk jatuh ke tampilan yang terlalu glamor dan malah terasa artifisial. Untungnya, Bercinta dengan Maut justru memilih pendekatan yang lebih natural.
Setting rumah, lokasi, dan tata visualnya dibuat cukup meyakinkan tanpa harus terlihat berlebihan. Hasilnya, serial ini masih enak dipandang dan terasa punya identitas produksi yang lebih rapi dibanding banyak serial serupa.






