
Layar.id – Memang Suka Duka Tawa di JAFF Market 2025 bukan hanya tentang transaksi dan pitching, tetapi juga tentang menemukan suara-suara baru yang siap mengguncang lanskap sinema Indonesia. Pada hari terakhir gelaran tersebut, satu nama mencuri perhatian publik di booth Visinema Group: Aco Tenriyagelli, sutradara debut film panjang Suka Duka Tawa, karya terbaru BION Studios dan Spasi Moving Image.

Di tengah arus film-film genre dan proyek ambisius. Suka Duka Tawa di JAFF Market, Suka Duka Tawa tampil berbeda. Aco membawa sesuatu yang jarang disentuh sineas muda. Berkisah tentang hubungan anak dan ayah yang retak, dengan balutan lewat kacamata Stand Up Comedy. Bukan sekadar drama keluarga, bukan sekadar film komedi. Aco meramu keduanya menjadi refleksi yang lucu, getir, dan sangat manusia.
Film ini mengikuti perjalanan Tawa (Rachel Amanda), seorang komika yang sedang merintis karier. Sejak kecil, Tawa hidup tanpa ayahnya yang sibuk menjadi komedian televisi. Ironisnya, ia tumbuh besar sambil menjadikan aib ayahnya sendiri sebagai materi Stand Up.
Saat kariernya menanjak, sang ayah kembali hadir dan luka lama pun terbuka.

Aco menjelaskan bahwa ia ingin membuat film yang jujur, bukan sekadar lucu. “Trauma Tawa itu sangat personal. Tapi justru dari hal paling personal, kita bisa menemukan humor yang paling universal,” kata Aco dalam sesi press conference.
Aco yang selama ini dikenal lewat film pendek, serial, dan video musik, akhirnya diberi ruang penuh kreativitas oleh BION Studios dan Spasi Moving Image. Ruang itulah yang memungkinkan film ini memiliki suara yang sangat khas: pahit, hangat, dan kadang—terlalu dekat dengan kenyataan.
Meski ini debut panjang Aco, deretan pemainnya bukan orang baru baginya. Rachel Amanda, Marissa Anita, Teuku Rifnu Wikana, hingga Enzy Storia pernah bekerja sama dengannya. Sementara itu, nama-nama baru seperti Nazira C. Noer, Abdel Achrian, dan Mang Saswi memperkaya tekstur film.
Trio Podcast ABG—Arif Brata, Bintang Emon, dan Gilang Bhaskara—menghadirkan energi komedi sekaligus kedisiplinan baru bagi proyek ini.
Gilang bahkan menyebut film ini sebagai proses paling serius yang pernah ia jalani “Ini playground yang berbeda. Banyak adegan, banyak persiapan, dan iya… kami tetap bercanda. Tapi serius banget juga.”
Sementara itu, Amanda menjalani riset terberat: benar-benar naik panggung Open Mic. “Sempat stres parah. Tapi dari situ aku baru paham lapisannya komika. Mereka mengolah hal personal jadi sesuatu yang ringan dan lucu,” ungkapnya.

Marissa melihat Aco sebagai sutradara yang memiliki dua sisi selalu ceria di depan teman-temannya, tapi punya kedalaman emosional yang jarang terlihat. “Cara bercerita itu sangat Aco banget. Lucu, renyah, tapi kalau perhatikan , ada luka yang dalam. Itu yang bikin film ini punya napas berbeda.”
Kombinasi kedalaman drama dan energi komedi inilah yang membuat Suka Duka Tawa menjadi salah satu judul paling diperbincangkan di JAFF 2025.
Sebagai tanda kepercayaan kurator JAFF, Suka Duka Tawa terpilih menjadi Closing Film JAFF 2025 dan menjalani world premiere pada 6 Desember 2025 di Empire XXI Yogyakarta.
Tiketnya? Ludes dalam satu hari. Sebuah capaian yang jarang terjadi untuk film drama keluarga.
Dengan tema yang universal, pendekatan yang segar, serta gaya bertutur yang sangat personal, Suka Duka Tawa menjadi tanda bahwa Aco Tenriyagelli siap memasuki jajaran sutradara generasi baru Indonesia yang berani bermain di wilayah emosi dan humor sekaligus.
Film ini tayang reguler di bioskop Indonesia mulai 8 Januari 2026.
BION Studios dan Spasi Moving Image mengajak penonton untuk terus mengikuti perkembangan film ini melalui media sosial resmi.






