Review Film “Pangku” (2025)

Isaura SalsabillaFilm Indonesia7 months ago1.7K Views

Layar.id – Reza Rahadian yang terkenal banget sebagai aktor Indonesia, kini merilis film debut penyutradaraannya dalam sebuah karya yang berjudul Pangku. Film ini menyoroti tentang fenomena kopi pangku yang marak terjadi di daerah Pantura, dan bagaimana para gadis pangku bertahan hidup dari kebiasaan tersebut. Film Pangku rilis di bioskop mulai 6 November 2026, dan inilah review Pangku dari Layardotid.

Spoiler alert, artikel ini akan mengandung spoiler demi kebutuhan penulisan, ya!

Fenomena Kopi Pangku

Poin utama dari keseluruhan cerita film Pangku adalah tentang perjuangan seorang ibu bernama Sartika yang mencari pekerjaan di wilayah Pantura. Tidak ada asal-usul tentang Sartika, atau tentang ayah dari anak di kandungannya. Karakter ini hadir secara anonymous. Yang, menurut kami, adalah treatment yang bagus banget karena penonton bisa lebih fokus ke penokohannya dibanding character background Sartika.

Sartika menerima pekerjaan di sebuah warung kopi. Deket banget sama tempat karaoke yang jauh lebih rame (dan lebih mahal kopinya serta gajinya mungkin). Sartika dan Maya, si pemilik warung, harus memutar otak bagaimana caranya bisa mengangkut pelanggan. Mereka pun menjual dagangan dengan metode kopi pangku.

Kopi pangku, secara singkatnya, adalah sebuah pelayanan khusus bagi satu orang pelanggan (biasanya laki-laki) yang memesan kopi di warung. Nantinya, pelayan warung (biasanya perempuan) datang menyajikan kopi dan memberikan “fan service” dengan cara dipangku oleh pelanggannya.

Namun, rupanya pelayanan kopi pangku ini membuka luka perjuangan Sartika dengan kupasan yang lebih besar. Mulai dari kesusahan mencari nafkah, bekerja hingga larut malam, bahkan mengerjakan sesuatu yang ditentang oleh anaknya sendiri. Yang terakhir ini sakit banget, sih…

Perjuangan Anak Memahami Ibu Tunggalnya

Karakter Sartika dalam film Pangku digambarkan sebagai seorang ibu tunggal dengan satu anak bernama Bayu. Dari Bayu kecil hingga seumur SD, Bayu besar di antara Sartika, Maya, Jaya, dan pelanggan-pelanggan warung yang senang memangku ibunya. Bayu melihat sendiri bagaimana Sartika bekerja sebagai ibu dan sebagai penjaga warung milik Maya.

Yang menariknya, film Pangku tidak hanya berfokus pada Sartika sebagai seorang ibu tunggal saja. Namun, film ini turut menyoroti sudut pandang Bayu yang dari seumur jagung sudah menyaksikan berbagai “pekerjaan dewasa” di sekitarnya.

Salah satu bagian film yang paling membekas adalah ketika Bayu, Sartika, seorang gadis pangku dan seorang supir truk bergantian kamar untuk kebutuhan yang berbeda. Ironis sekali, di mana sebuah kamar bisa menjadi wadah beragam hanya dengan sebuah niat.

Perjuangan Bayu yang ingin punya sosok ayah sungguh menyayat hati. Seolah Sartika dan Bayu sama-sama berbagi tekanan hidup yang besar. Terutama di momen ketika Sartika butuh seorang suami untuk mendaftar sekolah Bayu. Meski masalahnya tertuju pada Sartika, namun Bayu sebagai anak ikut terkena imbasnya.

Sinematografi = KELAS!

Udah membahas dari segi storyline dan karakter, sekarang kita bahas tentang pengambilan gambar dari film Pangku. Sejak awal, film ini emang ngambil latar (sebagian besarnya) di malam hari. Jadi nggak usah bingung ya kalo filmnya agak “gelap”.

Potret kawasan Pantura yang penuh ingar bingar musik kontras sekali dengan sosok Sartika dan Bayu yang berada di kedai kopi Maya. Kontras dengan cerita mereka, dengan perjuangan mereka, namun semuanya seolah terjahit dengan sangat sempurna.

Beberapa adegan tanpa dialog langsung juga dengan sangat sukses menusuk hati melalui sinematografi dan pengadeganan saja. Seperti saat Sartika pergi dari rumah supir truk yang mengajaknya untuk menikah. Tidak banyak dialog yang ditunjukkan atau diucapkan. Tapi maknanya dalam—dan sialan, banget.

Kami suka banget bagaimana Reza menggambarkan kawasan Pantura yang ramai, dekat dengan laut dan pantai. Rasanya adem melihat pemandangannya. Tapi tidak dengan kawasan kemiskinan yang memeluk Pantura dengan laut. Film Pangku sejatinya menggambarkan bahwa setiap orang, setiap ibu, rela melakukan apa saja untuk menghidup keluarganya. Untuk keluar dari kemiskinan. Untuk menyambung hidup dan menyekolahkan anak-anak mereka.

Overall Review

Oke, secara keseluruhan film, agaknya tidak berlebihan kalau film Pangku kita jadikan salah satu rekomendasi tontonan paling penting untuk Hari Ibu. Film ini menceritakan perjuangan seorang perempuan dan seorang ibu dengan karakter yang tidak banyak berbicara. Semuanya tergambarkan melalui adegan-adegan yang getir nan menampar.

Overall score: 4.5/5

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

1 Votes: 0 Upvotes, 1 Downvotes (-1 Points)

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...