
Layar.id – Film Rahasia Rasa telah menggelar press screening, press conference dan gala premiere mereka! Film yang mengangkat kuliner Nusantara dari sutradara Hanung Bramantyo ini bakal tayang mulai 20 Februari 2025. Kali ini, tim Layar.id bakal membahas review film Rahasia Rasa.
Nah, yang menariknya, film ini meng-highlight makanan sebagai salah satu alat politik! Hal ini berkaitan dengan storyline Rahasia Rasa yang memperkenalkan sebuah buku resep bernama Mustika Rasa. Berikut review kami untuk film Rahasia Rasa, and spoiler alert! Artikel ini bakal mengandung spoiler demi kebutuhan review, ya.
Kalau bisa digambarkan secara singkat, Rahasa Rasa ini plotnya nggak ketebak samsek. Trailer-nya cuma ngasih gambaran besar dari sisi dapur dan sejarah buku masak Mustika Rasa. Tapi, kalau nonton keseluruhannya, film Rahasia Rasa menyajikan plot yang sedikit berat dan edukatif.
Ada tiga babak utama yang saya note di film Mustika Rasa. Babak satu memperkenalkan Chef Ressa yang bekerja sebagai seorang koki professional. Dari bagaimana Ressa mendapat tuntutan psikis yang besar demi mewujudkan impian sang ayah, kecelakaan mobil yang mengakibatkan trauma, sampai Ressa yang harus pulang kampung dan ketemu sama Tika, teman masa kecilnya.

Pada awalnya, saya ngerasa film ini rada fast-paced, seolah-olah setelah scene ini-itu, filmnya bakal selesai. Tapi… saya salah!
Memasuki babak kedua, yaitu pembahasan mengenai Mustika Rasa, saya mulai tertarik banget sama unsur sejarah yang tersisip. Jadi, Mustika Rasa adalah kumpulan resep Nusantara dari Sabang sampai Merauke yang dikumpulkan oleh Presiden Soekarno. Sebanyak 17 budayawan dan 8 perwira TNI mengumpulkan hingga 1945 resep Nusantara dari seluruh daerah di Indonesia.
Di sini saya merasakan plot twist yang cukup besar. Memang kedengarannya berat, tapi penulis Adi Nugroho berhasil melicinkan alur cerita dengan sentuhan sejarah lebih ringan! Saya yang tadinya nyeletuk “Hah?” bisa berubah jadi “Oooh!” karena pertanyaan dan jawabannya dikupas satu per satu.

Babak terakhir mulai menunjukkan sisi action yang (tadinya) saya kira nggak bakal cocok masuk di film kuliner. Ressa dan Tika mulai melawan Subroto dan antek-anteknya yang mengejar Mustika Rasa. Fyi, di babak akhir ini, saya udah bisa mendengar suara perut orang-orang di sekitar kursi saya yang mulai menggedor-gedor. Abisnya—ini beneran, riil, gak bohong—visual makanan di Rahasia Rasa SANGAT menggugah selera!
Pengambilan gambar di film Rahasia Rasa bener-bener gong, sih. Close up shoot berbagai makanan Nusantara yang santannya sampe tumpeh-tumpeh itu sukses bikin saya nelen ludah berkali-kali. Agaknya, keluar dari studio juga saya udah lemes mikirin mau cari makanan apa. Nggak tahu deh, ini masuknya jadi nilai plus (karena bikin ngiler) atau minus (karena bikin laper).

Kalau ada yang jadi poin minus bagi saya di Review film Rahasia Rasa, mungkin beberapa scene terasa over-dramatic dan nggak keliatan natural. Emosi Ressa, masalah Ressa-Dinda-Alex, tuntutan Subroto, sampai pertemuannya dengan Tika. Dan perdramaan itu semuanya terjadi di babak awal. Jujur saya sempat tidak tahu mau expect ada masalah apalagi di sisa ceritanya sampai memasuki babak kedua tentang pembahasan Mustika Rasa.
Di beberapa plot juga ada dialog-dialog yang menurut saya nggak nyampe di hati. Serasa nanggung, gitu loh. Kayak mungkin akan lebih baik kalau setelahnya ada dialog lagi.
Dari sisi karakter Alex sebagai chef di sisi Ressa juga kurang di-highlight. Hubungan Alex dan Dinda cukup menjelaskan posisi mereka di plot, tapi dari segi screen-time, Alex terlihat seperti karakter yang diada-adain–terkesan plot hole. Sayang banget! Padahal saya penasaran sama karakter ini karena posisinya yang sama-sama chef seperti Ressa.
Entahlah, mengingat di akhir film ada post-scene, apakah kisah chef Alex bakal muncul di sequel Rahasia Rasa? We never know.~

Pertama, ada karakter Ressa dan Tika yang super-badass! Karakter Ressa keliatan banget punya obsesi yang besar dan emotional management-nya lumayan buruk. Di antara wara-wirinya Ressa, hadir karakter Tika, sahabat kecil Ressa, yang mirip-mirip sama lada campur garam. Pedes di awal, umami di akhir!
Yang mencolok bagi saya adalah cara Tika dan Ressa nge-handle emosi mereka sebagai chef professional dan chef rumahan. Ressa, meski karakternya keras dan emosian, berubah total saat berhadapan sama Tika atau di depan kamera. Lebih calm and collected, gitu. Nyaris tidak ada penggambaran karakter Ressa sebagaimana di awal film.

Kalau Tika, layaknya penguasa dapur di area tradisional—alias rumah, lebih pemberani dan siap ngegeprek siapapun yang rese. Rasanya puas banget liat Tika ngelabrak para preman desa pake motor. Kalau ada di situ mungkin saya udah nyeletuk “Get them for me!” saking keselnya.
Untuk minus-minusnya, seperti yang sebelumnya, konflik karakter Ressa kerasa lumayan kecepetan. Buat karakter Tika, saya udah naksir banget. Selama sisa film, saya menikmati banget chemistry Tika-Ressa yang saling back up untuk ngejaga dokumen Mustika Rasa.
Karakter Mbah Wongso adalah karakter kunci bagi resep-resep Mustika Rasa. Penggambaran karakter Mbah Wongso sangat dekat dengan sosok ibu yang manis dan hangat. Kayak permen jahe. Efeknya seger, sedikit pedes, dan nenangin.

Saat sesi door stop media, Yatti Surachman yang memerankan karakter Mbah Wongso, sempat membagi cerita unik! Beliau bercerita kalau saat syuting Mbah Wongso Muda, beliau menggunakan efek selotip dan plester untuk menarik kulitnya supaya terlihat lebih kencang. Jadi nggak pakai edit filter yang berlebihan. Apalagi pake AI. Keren banget tim wardrobe-nya!
Setelah bertemu Mbah Wongso, karakter Ressa juga berubah jadi karakter yang lebih baik dan tenang. Semua hal yang membebani kepalanya bisa sembuh berkat bantuan Mbah Wongso.
Kalau kata beliau, “Jangan meremehkan kekuatan obat-obatan tradisional.” Setujuuuu?~
Ini deh, tiga serangkai yang paling nyebelin. Yang satu cabe besar, yang satunya lagi cabe keriting, yang terakhir cabe rawit. Eh, buat para pencinta cabe, jangan tersinggung ya. Ketiganya ada di posisi paling “enak” dalam film ini, tapi lama-lama nyiksa.
Subroto, si cabe besar. Dari perawakan tampak intimidating bagi yang baru kenal sama orangnya. Tapi aslinya? Nggak sepedas kelihatannya. Licik memang. Cara ngalahinnya adalah dengan meruntuhkan dunia yang paling dekat sama Subroto: Dinda dan usaha rumah makannya. Kalau sudah hancur, ya doi gak bisa apa-apa. Hanya obsesi besar dan keangkuhan yang, actually, nggak sekuat perawakannya.

Jagoan kita, Dinda si cabe keriting, adalah karakter yang bikin saya juga lumayan ruwet. Dari gaya rambut, hidup, sampe sifatnya, semua berlika-liku mirip sama cabe keriting. Karakter yang satu ini pedesnya juga kayak cabe keriting, kadang pedes banget, kadang kurang juga. Tapi meninggalkan rasa. Konflik yang dihadirkan Dinda ke karakter Ressa ya gitu. Ninggalin luka yang nggak enak, tapi keinget terus.

Terakhir ada Alex, si cabe rawit. Paling nyelekit, paling nusuk, tapi candu. Karakter Alex ini duri dalam daging Ressa. Kejutan yang bikin lidah kaget saat ngegigit risol tiba-tiba di tengahnya ada cabe. Not a pleasant surprise for some people. Sayangnya, menurut saya, karakter ini kurang dapet screentime yang lebih ngegambarin gimana karakter Alex sepenuhnya.

Cabe kalau nggak dicampur bumbu dapur yang tepat, rasanya kurang nendang. Begitu nasib Subroto saat Ressa pergi dari rumah makannya. Begitu pula nasib Dinda setelah putus dari Ressa dan jalan bareng Alex. Dan begitu pula nasib Chef Alex yang—bagi Dinda, nggak sebanding sama Chef Ressa.
Oke. Dari segi plot dan karakter Review film Rahasia Rasa, Layardot.id memberikan skor 7/10. Di review ini, masih banyak plot yang nggak sepenuhnya kami review supaya nggak spoiler. Tapi, pastikan kalian nonton sampe habis ya. Ada kejutan MENARIK di akhir film Rahasia Rasa! 😀
Meski sejarah itu bisa mengundang penafsiran yang beda-beda, tim penulis nggak khawatir sama unsur sejarah yang tersaji di film Rahasia Rasa. Semoga setelah menonton film ini, teman-teman sekalian jadi lebih bersemangat untuk mengulik kebenaran tentang buku resep Mustika Rasa, ya.~
Review Film Rahasia Rasa adalah sajian dari dapur film Nusantara sebagai reminder pada generasi kini kalau Indonesia sendiri punya racikan bumbu yang gak kalah enak dari makanan di luar negeri. Film Rahasia Rasa tayang mulai 20 Februari 2025 di seluruh bioskop Indonesia.~






