
Layar.id – Sebuah masalah di era Soeharto banyak menimbulkan teka-teki, salah satunya PETRUS (Pembunuhan Misterius). Kali ini sebuah Documenter Series mengangkat masalah penembakan terhadap pelaku kriminal maupun orang-orang yang berseberangan dengan hukum. Kali ini, mengangkat kisah dari sebuah Kota di Jogjakarta, PETRUS mencoba untuk singkap sebuah kabut misteri dari kisah mereka ini.
Sosok penting seperti Slamet Gaplek dan Wahyono inilah yang mereka angkat di Dokumenter tersebut. Lantas, apa yang menarik? Simak berikut kisah dari Docu-Series berikut ini.
Sebenarnya KlikFilm Production sendiri berani ambil resiko dengan hadirkan dokumenter kontroversial ini. Mencoba kupas sisi gelap sejarah kelam tersebut namun dari kacamata keluarga korban dan masyarakat.
Terutama di era 1980-an sendiri banyak sekali ketakutan akibat OPK atau istilah resmi dari pemerintah tersebut.
Dengan hadirkan produser PETRUS, Edy Prass beserta sutradara Tri Sasongko Hutomo. Mereka cerita bagaimana proses produksi film ini berhasil gambarkan sebuah perspektif baru dari misteri 40 tahun lamanya tersebut. Terutama kehadiran narasumber, Istri Slamet Gaplek Ibu Tinah dan Sahabat dari Wahyo, Bapak Yudho. Mempertegas kisah menarik dari kedua sosok yang menjadi korban penembakan misterius tersebut.
Bukan itu saja, Edy Prass dan Tri Sasongko berikan penjelasan detail soal tantangan dan juga komitmen mereka sajikan fakta secara objektif lewat medium film dokumenter. Dengan kehadiran ini, rasanya akan ada refleksi kritis terhadap sejarah kelam yang selama ini tabu untuk kita bahas.
Sebenarnya ide mengangkat soal Petrus dan bagaimana mereka mengemas soal cerita ini. Bahkan Edy Prass, selaku produser mengaku tidak sengaja angkat soal masalah ini. ” Awalnya saya ingin mengangkat sebuah film bertema kekerasan, seperti tentang preman atau gangster. Lalu saya terpikir kenapa tidak membuat film bersumber dari sebuah kejadian besar. Akhirnya diputuskan untuk membuat film Petrus ini,” ungkapnya.
Malah Tri Sasongko Hutomo cuma mengangkat kisah ini berdasarkan POV dari korban. “Film dokumenter ini berdasarkan kesaksian tokoh-tokoh yang mengalami langsung dilancarkannya OPK (Operasi Pemberantasan Kekahatan), pertama kali lalu menyebar di Yogyakarta lalu kota Indonesia dalam kurun waktu 1981 sampai 1983. Karena ini berupa pengakuan maka bentuk film ini adalah penuturan dari kesaksian Pak Yudho yang bercerita soal step by step di mana, awal terjadi kemudian meledaknya peristiwa Petrus dan titik tragedinya. Lengkap dengan keterangan para tokoh yang mengalami, atau masyarakatnya,” terangnya.
Sebagai istri dari korban penembakan Ibu Tinah, mengaku sangat sedih jika mengingat kematian suami oleh Petrus.” Sampai saat ini, masih merasa sedih. Suami saya waktu itu sempat kabur ke Surabaya, tinggal di rumah saudaranya. Tapi ada yang membocorkan keberadaannya. Sampai akhirnya suami saya ditembak di dekat kota Yogjakarta. Saat saya membuka peti jenazah suami saya, saya melihat ada puluhan lubang peluru di tubuhnya,” ungkapnya.
Sementara Bapak Yudho merasa kalau Petrus ini adalah ketidakadilan dari sebuah sistem hukum di Indonesia dan merasa Wahyu jadi korban.”Sahabat saya menjadi korban pertama Petrus di kota Yogjakarta. Menurut saya, tidak fair Wahyu jadi korban petrus, karena dia orang yang baik. Saya juga tidak tahu kenapa Wahyo menjadi target. Setahu saya Wahyo hanya dipakai rekeningnya oleh preman, dan waktu itu saya juga sudah memperingatkan ke Wahyo untuk hati-hati,” jelasnya
Film dokumenter Petrus dapat disaksikan secara resmi di KlikFilm mulai tanggal 8 Desember 2024.






