
Layar.id – Sudah lama rasanya tidak ada film action yang benar-benar mengandalkan kemampuan fisik para pemainnya sebagai daya tarik utama. Di tengah dominasi film yang sibuk membangun semesta, drama, atau efek visual berlebihan, The Furious hadir dengan pendekatan yang jauh lebih sederhana dengan menghadirkan pertarungan tanpa henti yang mereka bangun di atas koreografi bela diri kelas dunia. Jadi ini Review The Furious Berikut ini.

Sutradarai oleh Kenji Tanigaki, film ini mempertemukan sejumlah nama yang sudah tidak asing bagi penggemar genre action seperti Mo Tse, Joe Taslim, Yayan Ruhian, Brian Le, hingga Joey Iwanaga. Hasilnya adalah sebuah film yang memahami dengan baik siapa target penontonnya dan tidak pernah kehilangan fokus dari awal hingga akhir.

Ceritanya memang bukan sesuatu yang baru. Wang Wei berusaha mencari anaknya yang hilang setelah terjerat jaringan perdagangan manusia yang beroperasi di Asia Tenggara. Dalam perjalanannya, ia bekerja sama dengan Navin, seorang jurnalis yang tengah menyelidiki kasus serupa. Pencarian tersebut kemudian membawa mereka berhadapan dengan berbagai kelompok kriminal yang menjadi penghalang utama.
Namun justru kesederhanaan cerita tersebut menjadi keuntungan bagi The Furious. Kenji Tanigaki tidak berusaha membuat konflik yang terlalu rumit. Cerita hanya berfungsi sebagai pemicu yang membawa para karakter dari satu konfrontasi menuju konfrontasi berikutnya. Fokus utama tetap berada pada aksi dan film ini tidak pernah malu untuk mengakuinya.

Kekuatan terbesar The Furious tentu berada pada koreografi pertarungannya. Hampir setiap karakter memiliki identitas bertarung yang berbeda sehingga setiap duel terasa unik. Mo Tse tampil dengan gerakan yang cepat dan eksplosif, sementara Joe Taslim membawa pendekatan yang lebih efisien dan keras melalui kombinasi teknik judo dan striking. Di sisi lain, Yayan Ruhian kembali menunjukkan kemampuannya sebagai salah satu aktor laga terbaik Asia dengan pendekatan yang agresif dan tidak terduga.
Menariknya, film ini juga memberi ruang bagi para pemain lain seperti Brian Le dan Joey Iwanaga untuk bersinar. Tidak ada karakter yang terasa sekadar menjadi pelengkap. Setiap pertarungan memiliki tujuan dan memberikan kesempatan bagi para pemain untuk menunjukkan kemampuan mereka masing-masing.
Tanigaki juga memahami pentingnya menjaga keterbacaan aksi. Kamera tidak terlalu sibuk, pemotongan adegan tidak berlebihan, dan setiap gerakan dapat terlihat dengan jelas. Penonton diberi kesempatan untuk menikmati koreografi yang telah dirancang dengan detail tanpa harus terganggu oleh editing yang terlalu agresif.

Dari sisi visual, The Furious tampil matang dan konsisten. Perpindahan lokasi pertarungan berlangsung cepat, tetapi tidak pernah membuat film kehilangan orientasi. Justru perubahan ruang tersebut membuat setiap adegan memiliki karakter yang berbeda dan menjaga intensitas film tetap tinggi hingga menjelang akhir.
The Furious mungkin tidak menawarkan cerita yang revolusioner. Namun film ini tidak pernah menjanjikan hal tersebut sejak awal. Yang ditawarkan adalah aksi brutal, koreografi pertarungan yang memukau, serta kumpulan praktisi bela diri yang tampil di puncak kemampuan mereka. Bagi penggemar film laga murni, itu sudah lebih dari cukup.

Pada akhirnya, The Furious adalah pengingat bahwa film action terbaik tidak selalu membutuhkan cerita yang kompleks. Selama koreografi, ritme, dan para petarungnya mampu berbicara melalui aksi, hasilnya bisa tetap terasa memuaskan. Dan dalam hal itu, The Furious berhasil menjalankan misinya dengan sangat baik.
Nilai Review The Furious 8.5/10






